Kepada tersayangku,
Kutulis surat kecil ini dengan kehangatan cinta dan kasih sayang kepadamu. Semoga Allah senantiasa menjaga hubungan kita hingga ke surga
Sayangku, maafkan aku ...
Melalui surat kecil ini aku ingin mengatakan sebuah kejujuran kepadamu. Sebuah kejujuran yang telah lama kusimpan dalam diam.
Kejujuran itu adalah ...
Bahwa, aku bukanlah wanita yang dulu lagi
Iya ..
aku bukanlah wanita yang dulu lagi
Maafkan aku 😢
Sayangku, dua puluh tahun sudah berlalu. Disadari atau tidak, disukai atau tidak, ternyata bukan aku saja yang telah berubah. Tapi engkau pun demikian.
Lihatlah,
Rambutmu yang dulu jeugrak (istilahku kepadamu, 20 tahun yang lalu) mulai menipis. Beberapa uban muncul menghiasi kepalamu.
Perutmu pun mulai dipenuhi lemak.
Perlahan aku juga melihat sisi lain dirimu. Sikapmu, egomu, ambisimu, cara berfikirmu, langkahmu. Semuanya menunjukan perubahan.
Tetapi, diantara semua perubahan itu, hanya satu yang hingga saat ini tidak pernah berubah,
Caramu memandang ke arahku
selalu dengan tatapan tajam ..
Sayangku, nyatamya perubahan itu lebih banyak terjadi padaku.
Lihatlah,
Gadis muda yang 20 tahun lalu engkau nikahi..
Dengan segala keelokan dan keindahan yang terpancar dari bunga yang sedang mekar, dia menghias rumahmu.
Tapi bunga itu tak mungkin selamanya mekar dan selamanya indah.
Kini dia mulai layu, seperti menunggu waktu ..
Mungkin engkau tidak lagi menemukan kelembutan
Atau mata yang teduh
Atau sikap yang penurut
Atau kemanjaan yang dulu sering membuatmu luluh
Aku berubah menjadi orang asing yang tak kau kenal
Aku berubah menjadi manusia berhati beku
Aku berubah menjadi sosok penuh ego
Sayang,
Maafkan aku ..
Aku sadar telah mengabaikanmu selama hampir sepanjang kebersamaan kita. Aku menyesal telah menjadikan dirimu sebagai prioritas kedua.
Semua ini awalnya kulakukan karena aku harus menjalankan amanat yang engkau percayakan ketika bayi mungil itu hadir di antara kita
Jangan bekerja, jaga saja anak kita ..
Memang kalimat itu tidak seromantis dialog Dilan dalam film Dilan 1990.
Jauh dari itu, kalimatmu melebihi ekspektasi keromantisan sebuah perasaan cinta
Maka sejak itu seluruh waktuku hingga detik ini kuberikan hanya kepada anak kita, dan keluarga kecil kita.
Aku rela meninggalkan ayah ibuku
Aku rela menjalani hari-hariku
Aku rela mengabdi kepadamu
Meski di dalam pengabdian itu acapkali aku berada di tempat dan keadaan yang tidak mudah
Sayang, maafkan aku yang sudah sangat berubah
Sejujurnya akupun berharap memiliki energi dan pengertian seperti yang aku miliki dua puluh tahun yang lalu.
Sialnya tidak
.
Seringkali aku mendapati diriku secara fisik, emosional dan mental dalam keadaan kelelahan.
Dan aku tidak bisa mengendalikan itu
Mungkin engkau tidak mengerti, mengapa aku sering terlelap setiap kali engkau pulang bekerja
Mungkin engkau tidak mengerti mengapa aku sering tak sanggup menyiapkan makan malam
atau menemanimu mengobrol
atau menonton hingga larut malam
Bahkan multitasking pun acapkali gagal kulakukan
Aku menyapu sambil memasak, mengepel sambil mengurus anak, mengelap sambil membereskan segala mainan yang ditumpahkan anak-anak.
Terkadang sambil memikirkan setelah ini akan mengerjakan itu. Setelah itu masih ada sederet to do list yang sudah menunggu.
Ada kalanya itu semua membuatku lelah hingga aku lupa sedang memasak sayur karena anak mengompol dilantai. Aku takut dia terjatuh maka kutinggalkan masakanku demi menjaga keselamatan anak kita.
Terkadang juga aku lupa dimana engkau menyimpan kaos kaki karena aku juga harus mengingat dimana anakku menyimpan pinsilnya, sepatunya, mainannya.
Aku juga lupa dimana ku simpan kunci kendaraanmu, hand phone mu, dompetmu atau perlengkapan lain yang kau tanyakan karena akupun harus mengingat dimana engkau menyimpan martil, obeng, gergaji, tespen, dan segala macam perabotan lelaki.
Sementata itu aku juga harus mengingat kapan aku harus bayar listrik, bayar uang sekolah, bayar ini bayar itu ..
Atau mengingat jam berapak anakku berangkat sekolah, mengecek apakah dia sudah mengerjakan peernya, atau mengawasi apa yang dia lakukan setiap harinya
Segala hal kecil yang bahkan sama sekali tidak pernah kau bayangkan pun, terjadi dalam kehidupan sehari-hariku.
Sangat sering aku merasa lelah, letih dan jenuh..
Sesuatu yang manusiawi bukan?
Aku bukan asisten rumah tangga, tapi setiap hari aku melakukan semua pekerjaan rumah tanpa jeda
Aku bukan guru atau psikolog, tapi setiap hari aku melakukan pekerjaan itu terhadap anakku
Aku bukan dokter, tapi setiap kalian sakit aku berjaga sepanjang malam
Rumah ini juga bukan restoran cepat saji, tapi setiap hari aku berlomba dengan waktu supaya setiap kalian terbangun kalian bisa cepat menemukan makanan
Aku merubah diriku menjadi segala yang kalian butuhkan
Hingga aku lupa aku ini siapa ... ?
Tapi aku selalu ingin melakukan hal terbaik
Aku tidak bisa berhenti berperan sebagai seorang ibu dan tidak bisa lari dari kenyataan bahwab akulah jantung di rumah ini.
Tidak peduli bahwa aku sendiri lupa mandi
Tidak peduli bahwa aku sendiri tidak sempat sarapan
Kucurahkan seluruh waktuku, fikiranku, hanya untuk kalian
Demi untuk sebuah amanat yang telah engkau percayakan kepadaku
Aku harus sehat, cerdas, ceria, sabar, kuat, tegar, normal
Dan hidup!!
Sayangku, maafkan aku yang tidak pernah bisa bersikap jujur kepadamu
Sangat ingin aku berbagi denganmu.
Merengek meminta pijitan di punggung atau di tangan ketika letih
Atau merengek meminta waktumu mendengar ocehanku tentang kebiasaanmu meruntuhkan susunan baju yang sudah kurapihkan
Atau meminta sedikit perhatianmu untuk mendengar kekesalanku tentang tetangga yang usil kepadaku
Atau meminta sedikit waktumu untuk sekedar membicarakan pertumbuhan atau kebutuhan anak kita
Atau meminta sedikit kesabaranmu ketika aku mengeluh tentang sanyo yang rusak, genteng yang bocor, pagar yang roboh, atau bahkan mengeluh soal harga sembako yang terus naik
Ataupun mengemis waktumu untuk sekedar pergi berjalan-jalan berdua saja.
Tapi itu tidak bisa kulakukan ...
Bahkan aku pun tidak mampu mengganggu waktu istirahatmu karena aku harus memastikan durasi tidurmu cukup, supaya esok bisa bekerja dengan kondisi badan lebih baik.
Bahkan ketika keadaan memaksaku ikut bekerja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari yang mungkin tidak kau mengerti.
Aku melakukannya, sambil menjaga anak kita
Kusembunyikan lecet-lecet di telapak tanganku akibat alat kerjaku. Kusembunyikan rasa sakitku ketika mengalami kecelakaan kerja.
kusembunyikan letihku,, rasa khawatirku, semuanya ..
Ada saat dimana aku merasa sangat membutuhkan engkau
Tapi hanya perbedaan yang aku dapatkan
Hanya sebuah tuntutan bahwa aku harus bisa menjadi segalanya
Tau segalanya
Bisa segalanya
Segalanya ...
Aku tau ada rasa tak berdaya
Tapi hanya mampu menyimpan semuanya dalam diam
Karena aku mengerti, yang engkau hadapi jauh lebih besar dari apa yang terpikirkan oleh otakku yang dangkal
Sayangku,
Kita sudah bersama sejak lama
Dengan segala macam persoalan yang selalu berusaha engkau selesaikan di sela-sela waktumu yang sedikit itu
Untuk itu aku sangat berterima kasih
Diantara segala kebaikan di dunia ini, hanya engkaulah yang terbaik
Meski aku tau engkau selalu berteriak, bersikap terburuk, melangkah dalam keputusan yang salah.. tapi hati kecilku tau
engkau selaku ingin memberi yang terbaik untukku
Untuk itu aku juga sangat berterima kasih
Tetapi jika pada akhirnya aku merasakan keletihan yang teramat sangat, maafkan aku ..
Aku tidak menemukan dirimu atau mungkin bahumu, sebagai tempatku bersandar
Aku juga tidak menemukan kasihmu, pengertianmu, pemahamanmu, yang melindungi dan membimbingku ketika melakukan kesalahan
Aku seperti sedang memeluk bayangan
Aku tersesat jauh ... sendiri ...
Hanya mendengar suara anakku memanggilku, mama .. mama ..
Maafkan aku sayang ..
Inilah aku yang sekarang ..
Yang cuma bisa diam dengan segala permasalahan hidup
Yang cuma bisa melarikan diri, membenamkan diri pada langkah-langkah yang ada kalanya salah
Sayangku,
Sesungguhnya aku berharap kisah kita sejati seperti Ainun dan Habibie
Atau seromantis Dilan kepada Milea
Tapi aku mengerti engkau bukan orang yang sama
Dan aku mengerti langkah kita tak lagi seirama
Mengapa?
Mungkin hanya pemikiranmu yang bisa menjawabnya
Dan kesibukanmu yang bisa menjawabnya
Waktu tidak memberi kita kesempatan untuk merawat hubungan kita tetap sehat
Jika akhirnya engkau hanya bisa melihat dari sisi burukku saja, aku akan membiarkannya seperti itu
Sekalipun keburukan yang kau tuduhkan adalah sesuatu yang sebenarnya kita berdua lakukan
Aku sudah berusaha semampuku
Tapi mungkin itu tak cukup bagimu
Sayangku, dengan segala kerendahan hatiku aku meminta,
jika kelak engkau memahami benang merah dari segala kekacaun ini, semoga engkau menemukan jalan untuk pulang
Luruhkanlah amarahmu
Hapuskanlah dendammu
Maafkan semua kesalahan yang pernah terjadi di antara kita
Pulanglah,
Sebagaimana seorang nahkoda memperbaiki kapal dan awaknya
Pulanglah untuk memperbaiki semuanya
Karena bahagiamu ada di sini,
Ketika engkau memaafkan, memahami dan membimbing keluargamu melangkah dalam kedewasaan
Dimanapun engkau berada, semoga Allah selalu melindungimu
Salam ...