Selasa, 23 Januari 2018

Teh Melati Saksi Bisu Sebuah Perjalanan Cinta



Minuman hangat favoritnya itu sudah lama terhidang di meja. Teh manis hangat. Wangi teh melati menyeruak ke udara, melambungkan angannya pada kenangan-kenangan lama. Sesaat dia tampak memandangi dalam-dalam gelas teh nya. Kadang dia tersenyum. Kadang menunduk. Aura kesedihan jelas terlihat dari wajahnya. Tak lama, butiran bening mengalir, membasahi pipinya yang kurus.

Teh melati, saksi bisu sebuah perjalanan cinta


20 tahun yang lalu
Ayang, nama wanita muda itu. Wajahnya kala itu masih sangat muda. Pipinya sedikit cabi. Pagi-pagi sekali Ayang terbangun. Sebelum turun dari tempat tidur, dikatnya rambutnya ke atas. Lalu perlahan dia mencium kening pria yang tertidur di sampingnya dengan sangat hati-hati, seolah takut ciumannya akan membangunkan pria itu.
Turun dari tempat tidur bergegas Ayang pergi mandi, lalu menunaikan shalat subuh. Dalam doanya hanya satu yang dia ucapkan

"Ya Allah, terima kasih sudah mengirimkan suami terbaik untuk menjagaku dan membimbingku ke kehidupan yang bahagia. Semoga Engkau meridhoi rumah tangga kami, dan menuntun kami hingga ke surgaMu" ...

Ayang tampak sumringah hari itu. Suaminya terlihat sudah bangun. Ayang dengan sigap menyiapkan pakaian kerjanya, sarapan paginya dan segelas teh manis hangat. Wangi melati menyeruak ke udara. Ayang tersenyum saat pagi itu suami tercintanya menikmati teh buatannya
Dan seperri biasa,  suaminya itu tak pernah menghabisnya. Selalu tehnya tersisa setengah gelas. Dan seolah menjadi sebuah kebiasaan, Ayanglah yang menghabiskan sisa tehnya.

Pernah suatu kali suaminya bertanya,
"Yang kenapa Ayang selalu menghabiskan sisa tehku, Ayang kan bisa buat lagi?"

Ayang tertawa kecil, "dibuang sayang" jawabnya

Skip

Siang itu Ayang membawa botol-botol penuh air ke sebuah bangunan yang belum jadi. Iya, bangunan itu bakal jadi rumahnya. Di sana tampak suaminya dan beberapa orang pekerja bekerja keras menyelesaikan rumah mereka. Begitu bahagianya Ayang. Sebentar lagi impiannya terwujud.

Rumah impian Ayang sebenarnya sangat sederhana. Tidak terlalu luas. Tapi dia ingin menyentuh setiap jengkalnya dengan penuh cinta. Dia akan mengecat dindingnya dengan warna putih. Menggantung foto dirinya bersama suami dan anak yang sangat dicintainya di dinding. Dia juga akan menanam beberapa bunga melati, sedap malam, mawar dan anggrek kesukaannya.

Ayang berlari kecil ke rumah tersebut.. Sampai di sana dikeluarkannya botol-botol berisi air yang sengaja dibawanya dari rumah. Tadi malam Ayang membuat minuman tersebut lalu menyimpannya dalam kulkas. Dia yakin, suaminya akan sangat menyukainya, saat dia menyuguhkannya di siang hari. Dan keyakinannya terbukti.

"Ayang, teh manisnya enak banget. Segeeerr" kata suaminya kepada Ayang. Ayang tertawa riang.
"Iya doong, itu teh melati kesukaan kita" jawab Ayang. Wajahnya tampak sangat bahagia

Skip

Malam itu bulan bersinar penuh. Bintang-bintang bertaburan di langit. So romantic. Ayang dan suaminya tampak duduk di teras rumah. Dengan segelas teh melati yang diminum bergantian.
Momen seperti inilah yang selalu ditunggu Ayang. Menikmati segelas teh berdua, saling bercerita. Yaa sesekali mereka berdebat. Tapi hanya debat kecil biasanya. Maksudnya, biasanya ayang mengalah mengiyakan perkataan suaminya. Seperti malam itu, dan malam-malam lain saat ngetej berdua

Skip

Perjalanan hidup manusia adalah skenario yang tidak akan pernah diketahui kecuali oleh sang penciptanya. Pun ketika badai kehidupan membawa Ayang dan suaminya ke sebuah tempat antah berantah. Meninggalkan rumah impian yang baru beberapa bulan di tempati. Rumah itu dijualnya kepada seseorang. Lalu mereka pindah ke sebuah tempat terpencil, jauh dari kota. Dimana segalanya sangat berbeda dengan kota besar tempat Ayang tumbuh besar. Bahasanya, suasananya, lingkungannya, semua.. semua berbeda
Tidak ada listrik, tidak ada perabotan elektronik seperti yang mereka miliki di rumah lama.

Di kampung itu Ayang belajar memasak menggunakan kayu bakar, belajar mencuci di sungai, sampai belajar berkebun, seperti yang dilakukan para wanita di kampung tersebut.

Ketika suaminya bekerja di ladang orang, Ayang mencangkuli tanah di belakang tempat tinggal mereka. Dia menanam kangkung, bayam, cabe rawit, tomat dan berbagai sayuran lainnya.

Tapi sedikitpun Ayang tidak pernah mengeluh. Apalagi berniat meninggalkan suaminya. Meskipun Ayang hidup dalam kesusahan.
Tubuhnya mulai kehilangan berat badan. Kulitnya yang putih bersih mulai kering dan menghitam terpapar panasnya matahari saat dia berkebun. Ayang tidak pernah peduli sekalipun wajahnya tidak cantik lagi. Segala macam kosmetika perawatan tubuh dan wajah yang dulu sering ia gunakan, kini sama sekali tidak pernah dia gunakan.

Skip

Siang itu sang suami menemani Ayang di kebun. Beberapa waktu lalu Ayang merasa pinggangnya sakit. Sejak itu suaminya sering membantu Ayang di kebun. Mencangkul tidak lagi dikerjakan Ayang. Sekarang Ayang hanya mengerjakan yang ringan-ringannya saja. Membersihkan rumput di sekitar pohon, menyirami pohon-pohon sayuran yang mereka tanami, memanen hasilnya, sampai menjualnya ke kedai-kedai. Lambat laun kebun yang mereka garap semakin luas. Suaminya yang berbadan tegap itu bekerja dengan sangat keras. Hingga ribuan pohon terong berhasil mereka tanam.

Ayangpun semakin dituntut untuk bisa menyesuaikan diri dengan keadaan. Semakin banyak pohon sayur yang ditanam suaminya, semakin banyak pekerjaannya. Semakin banyak pohon yang harus disiram dan dirawatnya. Seringkali langkah kakinya terseok-seok saat mengangkuti gembor-gembor air untuk menyirami pohon terongnya.Tubuhnya yang kecil mungil pun seringkali terjatuh. Ayang berkubang dalam lumpur. Sangat jelas terlihat fisiknya tidak kuat mengerjakan pekerjaan berat itu. Tapi Ayang selalu memaksakan dirinya. Ada sebuah panggilan dari lubuk hatinya setiap kali Ayang letih dan malas bekerja.

Cinta ...

Iya, Ayang sangat mencintai suaminya. Ia bersedia melalui semua keadaan sulit demi mempertahankan keutuhan kelurga kecilnya.
Ayang sangat mencintai suaminya, hingga dia rela menyerahkan jiwa raganya untuk sebuah pengabdian kepada suami

Skip

Siang itu Ayang pergi ke kebun. Dia tampak menenteng kating, tas anyaman khas di kampung tersebut. Di dalam kating Ayang membawa botol berisi air berserta nasi dengan lauk oseng terong untuk suami yang sedang bekerja di kebun.
Hari itu Ayang tidak ikut bekerja di kebun karena sedang demam. Ia memaksakan diri pergi ke kebun demi mengantar makan siang untuk suaminya

Sampai di kebun dituangnya air dalam botol tadi ke dalam gelas. Lalu diberikannya kepada suaminya. Sang suami meminumnya dengan cepat. Seolah dia sangat kehausan. Ayang tertawa "pelan-pelan minumnya sayang" ujarnya
"teh manisnya enak" jawab suaminya.
Waktu itu ayang membuat teh manis dengan campuran buah kelapa muda. Kelapa di kampung itu memang berlimpah.

Sering Ayang memasak dengan menggunakan bahan baku kepala. Tapi kelapa-kelapa tersebut tidak pernah habis. Sampai akhirnya dia berfikir untuk menjualnya ke pasar. Dari sanalah jalan kehidupan Ayang mulai terbuka. Awalnya Ayang hanya menjual beberapa butir saja. Lambat laun permintaan kelapa semakin banyak. Ayang bicara dengan suaminya kalau kelapa bisa dijadikan peluang usaha yang sangat menjanjikan.

Dan keyakinan Ayang itu terbukti. Dari beberpa butir kelapa, kini Ayang bisa menjual ribuan butir kelapa. Ya tentu saja kali itu Ayang tidak ikut terjun langsung. Suaminyalah yang sepenuhnya mengurus jual beli kelapa yang akhirnya menjasi bisnis mereka.

Kelapa-kelapa tersebut didapatnya dari petani di kampung mereka. Hampir semua pemilik kebun kelapa menjual kelapanya kepada suaminya. Oleh suaminya dijual kembali ke kota. Sesekali Ayang juga ikut menemani suaminya nego dengan pemilik kelapa. Sesekali juga Ayang ikut pergi ke kota

Sejak saat itu Ayang tidak lagi ikut bekerja keras. Suaminya memiliki beberapa orang pekerja yang membantunya. Tapi Ayang tetaplah Ayang. Yang selalu ingin membaktikan diri kepada suaminya walaupun dengan melakukan hal kecil.

Seperti siang itu, saat para pekerja beristirahat di teras rumah mereka. Ayang membuat pisang goreng dan teh manis. Lalu menyuguhkannya kepada suami dan para pekerja. Hampir setiap hari pekerja-pekerja itu datang ke rumahnya. Begitupun tetangga dan teman-teman suaminya. Suami Ayang memang orang yang supel. Banyak orang yang suka mengobrol dengannya. Tidak heran rumah mereka selalu ramai. Dan teh manis selalu menjadi andalan Ayang sebagai teman makan cemilan untuk disuguhkan kepada suami dan teman-temannya.

Kehidupan mereka saat itu perlahan mulai meningkat. Apalagi listrik mulai masuk ke kampung mereka. Ayang pun melihat peluang usaha baru di sana. Dia berfikir, setelah listrik masuk kampung, akan ada banyak warga di sana yang ingin memiliki televisi. Setelah memiliki televisi pasti akan merembet ke perabot lainnya, kulkas, mesin cuci, kompor gas, microwave dan lain-lain.

Ayangpun bicara dengan suaminya. Suaminya mendukung. Sejak itu setiap suaminya berangkat ke kota menjual kelapa, pulangnya membawa perabot rumah tangga. Perabot itu Ayang jual ke tetangga dengan sistem cash dan kredit. Dan prediksinyapun tepat lagi. Permintaan akan perabot rumah tangga ini semakin banyak. Usaha merekapun semakin bertambah. Kini mereka memiliki sebuah toko dengan menjual berbagai barang beraneka ragam. Uang kini tidak lagi menjadi masalah. Kini mereka hidup berkecukupan.

Tapi kehidupan terus berjalan. Selalu ada yang harus ditebus untuk sebuah kesuksesan. Dan itu adalah waktu

Sejak itu Ayang tak lagi memiliki waktu berduaan dengan suaminya walaupun sekedar menikmati minuman hangat favoritnya berdua. Apalagi untuk meminta perhatiannya. Suaminya itu selalu sibuk mengurusi bisnis mereka. Kalaupun ada di rumah, selalu ada teman, tetangga, pekerja, pembeli yang datang. Ayang mulai merasakan ada yang hilang ...

Prahara kehidupanpun muncul. Uang, kekuasaan, kesuksesan, orang ketiga, selalu menjadi momok di dalan setiap rumah tangga. Ayang memahami itu, bahkan menerimanya dengan lapang dada.

Ayang hanyalah manusia biasa. Seperti halnya wanita yang hatinya kosong dan hampa, ada ruang yang mudah untuk dimasuki orang lain. Iya, ayang pernah tergelincir kesana. Tapi ia cepat menyadarinya. Suara hatinya selalu berkata, cuma suaminya yang ia butuhkan. Cuma perhatian dan kasih sayang dari suaminya yang ia inginkan. Cuma suaminya yang ia cintai. Bukan orang lain ...

Setitik butiran bening menetes membasahi kedua belah pipi Ayang ketika ingatannya berhenti di sana.

Kesalahan tetaplah sebuah kesalahan, apapun alasannya dan sekecil apapun kesalahannya. Sayangnya ketika kesalahan itu terjadi dia tidak mendapati kedewasaan dan kebesaran hati suaminya. Dia seperti menemukan orang asing yang begitu dendam kepadanya
Dia melihat itu dari cara suaminya melakukan hal yang sama, dari cara suaminya membalas kesalahannya, dari cara suaminya memperlakukan dirinya. Dari cara bagaimana suaminya menghabiskan waktu mengobrol dengan sahabat Ayang sendiri. Kebohongan, luka, air mata, ego, cercaan, hinaan, amarah, semuanya ada di sana, tercipta di antara mereka. Dan Ayang hanya mampu menangis dan menerimanya.

Ada rasa lelah yang mulai mendera Ayang saat itu.
"Andai engkau tau sayangku, aku hanya ingin perhatianmu, sedikit waktumu, dan kasih sayangmu. Tidak lebih. Bukan harta, bukan tahta" batin Ayang

Ayang sangat merindukan saat-saat ketika mereka hidup dalam kesederhanaan. Mereka selalu punya waktu berkumpul bersama. Mereka selalu bisa mengobrol, tertawa dan bercanda. Keluarga kecil mereka sangat bahagia.

Tapi semua itu sudah berubah. Tak ada lagi sosok suami yang hangat dan mesra. Tak ada lagi sosok suami yang kesederhanaannya mampu membuat Ayang merasa bangga. Tak ada lagi sosok suami yang dengan lembut dan penuh kasih menjaga dan melindunginya. Membimbingnya ketika berbuat salah dan memeluknya dengan penuh sayang.

Suaminya sudah berubah. Atau Ayang yang berubah?
Entahlah.. hanya saja sejak itu mereka tak lagi bisa duduk bersama, sekedar menikmati segelas teh berdua.

Waktu berputar dengan sangat cepat. Merubah segalanya dengan sangat cepat. Ayangpun kembali ke kota kelahirannya, sendiri ..

Di kota kelahirannya Ayang berusaha menjalani hidupnya. Tidak, tidak.. Ayang tidak ingin meninggalkan suaminya apalagi berpisah dengannya. Kepergian Ayang ke kota kelahirannya, hanya untuk mengobati lukanya sendiri. Mungkin dia butuh me time. Butuh suasana berbeda untuk mengembalikan semangatnya yang mulai hilang. Untuk kemudian kembali menjadi wonder woman yang selalu siap mendukung suaminya , apapun keadaannya, bagaimanapun susasana hatinya.

Menjadi istri adalah menjadi sosok dimana segalanya harus kau miliki. Kesabaran tanpa batas, keikhlasan tanpa batas, dan kekuatan hati tanpa batas. Kamu harus kuat fisik, kuat hati, dan kuat iman. Itu pesan ibunya

Skip

Siang itu Ayang sudah menetap di kota bersama anaknya, ketika suaminya dari kampung datang menemuinya. Beberapa waktu kemudian Ayang mengetahui, suaminya sedang memiliki masalah besar. Rumah, kebun dan semua aset mereka di kampung habis. Bahkan lebih parah lagi karena suaminya melarikan diri dari sebuah kasus kejahatan. Ayang menangis. Bukan menangisi harta hasil usaha mereka berdua. Bukan menangis perjuangan mereka yang dulu sangat berat di kampung itu, perjuangan yang akhirnya sia-sia dan tanpa hasil. Juga bukan menangisi kasus yang menjerat suaminya. Tidak, bukan itu!

Ayang menangisi keadaan suaminya .. Hatinya trenyuh memandang wajah suaminya.
"sayang, kenapa ujian kehidupan kita begitu berat" batinnya
Ayangpun bergegas melayani suaminya. wajah suaminya tampak sangat letih saat itu. Ayang membuatkan teh manis panas untuknya

Sejak itu Ayang kembali berfikir. Apa? apa yang harus dilakukan? harus mulai darimana?
Fikirannya berkecamuk..
Tidak ada keinginan lain dalam dirinya saat itu kecuali membantu suaminya agar bisa bangkit dan kembali menata kehidupan rumah tangga mereka.

Ayangpun berubah menjadi hulk. Tubuhnya yang kecil bekerja keras mengerjakan apapun demi membantu ekonomi keluarganya. Anak-anak tidak boleh putus sekolah. Suaminya jangan sampai sakit. Bagaimana dengan dirinya?  Ayang mengabaikan semuanya. Lelahnya, sakitnya, lukanya. Hanya satu yang ia mau, keutuhan keluarganya.

Dengan segala keterbatasan Ayang berjuang hingga akhirnya menemukan peluang usaha baru. Ayang sangat menikmatinya, walaupun hasilnya belum seberapa. Suaminya saat itu memilih bekerja di tempat lain karena hasil usaha Ayang belum bisa menutupi semua kebutuhan hidup mereka. Ayang memahami itu, tapi dia berharap suatu hari nanti usahanya berkembang dan suaminya bisa berhenti dari tempat kerjanya untuk kemudian mengurus usaha yang sedang Ayang geluti saat itu.

Hari berganti hari. Namun segalanya tidak semakin membaik. Uang, target, rasa curiga, membuat jarak semakin menjurang. Masalah demi masalah kehidupan terus mendera.

Skip

Gelas teh di hadapannya sudah mulai dingin. Tidak ada uap mengepul di atasnya. Perlahan ayang tampak mengaduk-ngaduk gelas tehnya meski sudah dingin. Ia lalu meminumnya hingga tersisa setengah gelas
Sampai di sini, butiran air mata kembali membasahi pipinya. Tangisnya pecah. Ayang tak mampu menahan kepedihannya.

Dia hanya ingin bersama suaminya. Hanya ingin rumahtangga yang damai dan tenang.
Tapi tak ada yang menemaninya menikmati sisa teh itu.
Malam di saat perang bintang, atau pagi ketika embun masih membasahi bunga-bunga di teras rumah mereka, atau siang ketika matahari membakar kulitnya yang semakin kering, Ayang selalu sendiri.

Ayang melalui hari yang begitu berat. Perjuangan yang dilakoni fisik dan batinnya tak lagi bisa dia jalani dengan gigih.

Acapkali ketika sedang bekerja Ayang kelelahan hingga mengalami kecelakaan. Tulang lututnya retak, dua kali pelipisnya dijahit pada dua kali kecelakaan, dadanya memar, tapi Ayang menahan sakitnya karena ada yang lebih sakit dari luka fisiknya.

Hati ...

Kini d rumah itu, mulai sering terdengar suara teriakan-teriakan. Teriakan keributan dan pertengkaran. Tapi terkadang ada dinding yang kosong dan sepi, lantai yang dingin. Seperti nyanyian sunyi.

Ayang menangis sesesgukan. Dia benar-benar tak mampu menahannya lagi. Hatinya pedih, Sangat pedih.
Begitu sulitnya memperjuangkan cinta yang bersebrangan..

"Sayang, maafkan aku" batin Ayang
"Aku tidak melihat cara lain untuk memperbaik semua keadaan ini. Kita sudah saling menyakiti karena tersakiti. Kita gagal membuat saling percaya dan saling memaafkan. Tapi kegagalanku yang terbesar adalah gagal membuatmu percaya,.. segelas teh itu adalah ketulusan cintaku"

"Sayang, bagaimana caraku membuatmu mengerti. Aku ingin kamu yang dulu. Tapi bahkan penderitaanpun tidak membuatmu mengerti, bahwa cinta itu bukan target, bukan uang, bukan kehidupan tanpa tujuan"

"Sayang, maafkan aku. Aku memilih pergi. Dan kepergianku adalah usaha terakhirku membuatmu mengerti. Jalanmu terlalu terjal untuk kulalui dengan kaki kecilku. Bukan terjalnya yang tak sanggup kulalui, tapi kesendirian yang tak bisa kutahan. Aku tidak bisa melalui semua ujian hidup bila di sampingku tak ada bahu tempatku bersandar. Tidak ada tangan yang menuntunku. Dan tidak ada pelukan yang melindungiku"

Skip

Ayang beranjak bangkit dari tempat duduknya. Di sekanya air matanya dengan jari kurusnya. Suara anaknya memanggil. Ditinggalkannya minuman favoritnya itu di sana. Masih tersisa setengah gelas. Dia berharap, suatu hari nanti suaminya kembali. Dengan cinta yang utuh dan hati yang putih. Saat suaminya kembali, dia berharap tak ada lagi luka yang tersisa.

Dan mereka mengerti, sejatinya cinta suami kepada istri dan cinta istri kepada suami adalah sebaik-baiknya anugrah Allah yang harus dijaga dengan kesederhanaan dan ketulusan untuk saling memaafkan.

To be continue

Tulisan ini diikutsertakan pada tantangan #SatuHariSatuKaryaIIDN