Kemarin saya dapat video dari seorang teman via whatsapp yang menayangkan dasyatnya banjir di kawasan Pagarsih. Dalam video tersebut terlihat detik-detik hanyutnya mobil Avanza terbawa derasnya aliran air lalu masuk ke dalam selokan besar dan menghilang. Belakangan mobil tersebut ditemukan di aliran sungai Citepus dalam keadaan rusak parah
Satu kata aja yang mau saya ucapkan, spektakuler pisan!!
Musim hujan tahun 2016 di Bandung, ternyata bisa menghanyutkan mobil Avanza, kijang dan Livinna. Mungkin musim hujan tahun depan bisa jadi menghanyutkan truk molen..??
Beberapa hari pasca banjir kedua di Pagarsih secara tidak sengaja saya membaca artikel tentang banjir Pagarsih. Isinya kurang lebih seperti ini:
Dalam kasus banjir Pagarsih, saya heran dengan logika masyarakat Bandung yang selalu "hanya" menyalahkan pembangunan di daerah Utara yang dianggap sebagai salah satu faktor penyebab banjir di bawahnya. Mereka lupa, bahwa air banjir di Pagarsih hanya mencari kembali wadah alamiahnya yang sekarang tinggal nama, yaitu Situ Aksan. Sebuah danau dan rawa alamiah, yang sekira hingga limapuluh tahun yang lalu masih jadi salah satu obyek wisata di Bandung.
Sekarang nyaris tak berbekas, karena konon pelan2 menyusut, mengering, dan akhirnya menjadi bangunan hunian, pabrik, dan berbagai fasilitas publik lainnya. Padahal dulu orang bisa berlayar di tengah-tengah danau. Situ Aksan pun menjadi penampung air bagi wilayah di sekitarnya saat musim hujan seperti, kawasan Pasirkoja, Holis, maupun Pagarsih.
Situ Aksan adalah jejak danau Bandung purba, yang oleh pemerintah Hindia Belanda tersebut dijadikan kawasan konservasi. Pada zaman kolonial dikenal dengan nama Westerpark. Adapun jalan yang ada diberi nama Westerparkweg (sekarang Jalan Suryani). Situ Aksan bagi kolot baheula pernah menjadi objek wisata favorit hingga era 1950-1960-an. Jadi bila, sekarang banjir terjadi demikian dahsyat, jangan mudah menyalahkan anomali cuaca, hujan yang ekstrim, atau apa pun.
Tulisan tersebut benar-benar bikin saya kepo mak. Benarkah situ aksan yang hilang jadi penyebab banjir spektakuler kemarin?
Benarkah Situ Aksan adalah jejak danau Bandung purba?
Mak, saya ini bukan sejarawan, tapi sebagai orang yang tumpah darahnya alias turunannya orang Bandung boleh dong mak saya kepo. Biar tahu Bandung baheula buat diceritain lagi ke anak cucu cicit saya.
Akhirnya kekepoan saya membuat sayapun bertanya kepada embah gugel. Foto-foto inilah hasilnya:
Satu hal yang saya percaya setelah melihat foto-foto ini adalah bahwa benar, Situ Aksan dulunya sebuah situ atau danau. Situ aksan jadi tempat wisata favorite jaman baheula karena tempatnya yang asik. Ih kebayang mak, kalo situ tersebut dijaga sampe sekarang pasti deh bakal jadi spot favorite saya juga.
Lanjut ke persoalan banjir mak. Saya juga menemukan artikel yang ditulis oleh menantu dari cicitnya H. Mas Aksan. H. Mas Aksan konon adalah pemilik situ Aksan. Makanya disebut situ Aksan, maksudnya adalah situ miliknya H. Aksan.
H. Aksan terkenal sebagai pengusaha dari keluarga Pasarbaru yang tinggal di Jalan Raya Barat, sekarang Jalan Jenderal Sudirman. Beliau seorang pengusaha bahan bangunan yang sukses. Beliau membuat galian untuk lio batu bata. Bekas galian lio itulah yang kemudian ia buat menjadi situ. Ini adalah salah satu foto iklan toko Bangunan H. Aksan
![]() |
| Iklan Toko Bangunan ‘Aksan’ yang beralamat di Jalan Kebon Jati (no telf 314) di koran Padjadjaran edisi no. 20, 17 Mei 1919. |
Dari rejeki yang dia peroleh dengan berdagang bahan bangunan, H. Mas Aksan, membangun danau wisata yang sempat menjadi landmark Kota Bandung. Tempat tujuan wisata ini dibangun di atas sisa galian tanah liat, yang sebelumnya ia proses menjadi batu bata yang membangun sebagian bangunan-bangunan awal di Kota Bandung.
Terlepas dari apakah Situ Aksan adalah situ buatan H. Aksan atau jejak danau Bandung purba, atau banjir besar di Pagarsih adalah akibat hilangnya situ Aksan, saya hanya ingin menyampaikan pesan bahwa alam itu memiliki nalurinya sendiri. Alangkah baiknya jika kita mau memahami kemana air ingin mengalir, dengan tidak merubah alur alami apalagi menghalanginya. So, sebagai emak-emak kita mulai saja dari hal yang terkecil: jangan sembarangan buang sampah bekas rumah tangga apalgi buang mobil bekas :D
Setelah banjir ini berlalu, satu hal yang paling ingin saya lakukan adalah mengunjungi situ-situ di Bandung. Sebelum suatu saat situ tersebut kering atau dikeringkan dan berubah menjadi apartemen, hotel atau pusat perbelanjaan ..
![]() |
| Saya dan anak di Situ Patengan, Juli 2015 |



























