MENUTUP AKHIR TAHUN 2017 DENGAN BERZIARAH KE MAKAM SYEKH ABDUL MUHYI DAN MENGUNJUNGI GUA SAFARWADI
Postingan ini seharusnya di upload pada 1 desember 2018, tapi karena berbagai kesibukan kemudian terlupakan. Baru hari ini saya menyempatkan mempostingnya di sini
Mungkin, sebagian besar manusia di muka bumi merasa exited dengan segudang rencana dalam rangka mengakhiri perjalanan sepanjang tahun 2017. Tidak ada yang salah dengan hal ini. Sebelumnya, beratus tahun lalu manusia di muka bumi ini pun melakukan hal yang sama.
Tapi itu tidak berlaku buat saya, maksud saya tidak berlaku di tahun 2017. Tahun 2017 menjadi tahun yang paling mengharu biru buat saya. Bagaimana tidak, saya seperti naik kincir angin raksasa. Di awal tahun saya merasa seperti berada di atas, lalu berbagai badai kehidupan datang. Oprasi payudara, usaha hancur, rumah tangga semakin meruncing, lalu terakhir, menghadapi perceraian. Saya seperti dihempas sejauh-jauhnya. Sangat sulit untuk bisa bangkit apalagi membuat rencana-rencana awal tahun seperti tahun-tahun sebelumnya.
Akhirnya saya mengakhiri tahun 2017 tanpa anak, tanpa suami. Saya pergi ke Cipatujah, berangkat bersama anak-anak pesantren dan ibu-ibu pengajian. Tujuan saya banyak waktu itu. Ingin mencari ketenangan batin, ingin memulihkan semangat hidup, ingin mencari solusi atas permasalahan saya dan masih banyak lainnya. Beberapa orang menuduh saya, termasuk suami saya, kalau kepergian saya ke sana adalah untuk mencari sesuatu dalam konteks supranatural.
Saya abaikan tuduhan itu. Biarlah.. toh mereka tidak akan pernah memahami konflik yang terjadi pada batin seseorang. Saya memilih tetap berangkat. Bismilah aja ..
Pak Ustad Dadan yang waktu itu mendampingi perjalanan kami berkata, sebelum bis berangkat. Beliau mengingatkan supaya kami meluruskan niat, bahwa perjalanan ini adalah untuk bermunajat bersama di mesjid yang ada di cipatujah, lalu bersama-sama berziarah ke makam syekh Abdul Muhyi. Sampai di sini pak Ustad Dadan mengingatkan kembali, bahwa doa yang kami baca adalah mendoakan almarhum. Bukan doa minta sesuatu dari jenazah..
Sampai di lokasi tujuan saya dan rombongan langsung menuju mesjid, shalat tahajud bersama, berdzikir bersama, lalu bermunajat bersama. Ketika bermunajat air mata pun meleleh tanpa bisa dicegah. Saya teringat anak, teringat suami, teringat begitu banyak dosa yang sudah dibuat, teringat begitu banyak nikmat Allah yang saya ingkari, dan begitu banyak permasalaan hidup yang tidak mampu saya selesaikan dengan baik.. Air mata ini adalah bentuk ketidakberdayaan
Usai bermunajat dan shalat subuh saya dan rombongan berkumpul di sebuah gazebo di depan mesjid, mendengarkan sedikit tausyiah. Entah mengapa hati saya merasa kacau balau, karena tema tausyiahnya sedikit menyinggung tentang cinta, sesuatu yang jadi persoalan saya dalam 20 tahun ini ... Next insya alloh kalau ada waktu saya akan share.
Usai mendengarkan tausyiah, sesuai rencana kami akan berziarah ke makam syekh Abdul Muhyi. Semua orang terlebih dahulu mengambil air wudhu di area masjid. Kemudian lanjut bergegas menaiki tangga menuju makam.
Rupanya banyak sekali jamaah yang hendak ziarah. Kami harus antre sebelum bisa masuk.
Sekitar setengah jam tibalah giliran kami bisa masuk ke lokasi makam untuk ziarah ke makam Syekh Abdul Muhyi. Kamipun berziarah membacakan doa-doa dan juga ayat-ayat Al-Quran, termasuk surat Yaa Siin dengan dipimpin Pak Ustadz.
Sekilas tentang Syekh Abdul Muhyi
Berdasar info dari Wikipedia Indonesia, Syekh Abdul Muhyi lahir di Mataram pada tahun 1650 dan dibesarkan di Gresik. Di usia menginjak 19 tahun, beliau kemudian pergi ke suatu daerah bernama Kuala yang masuk dalam teritori Kerajaan Aceh. Di sana beliau berguru mempelajari Agama Islam selama 8 tahun lamanya (1669-1677M) kepada Syekh Abdurrauf Singkil bin Abdul Jabar.
Saat berusia 27 tahun, beliau bersama teman-teman sepondoknya diajak oleh gurunya pergi ke Baghdad untuk ziarah ke makamnya Syekh Abdul Qadir Jailani. Beliau bermukim di sana selama 2 tahun lamanya.
Setelahnya Syekh Abdurrauf mengajaknya berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Dan pada saat di Mekah inilah, Syekh Abdurrauf mendapati sebuah tanda, bahwasanya salah satu dari muridnya kemudian akan jadi wali. Tanda-tandanya sendiri dicirikan dengan kelebihan yang dimilikinya.
Tidak lain dan tidak bukan, murid yang dimaksud adalah Syekh Abdul Muhyi.
Kemudian, Syekh Abdurrauf mengutus Syekh Abdul Muhyi untuk bergegas pulang ke Indonesia. Disuruhnya pula beliau untuk mencari sebuah gua yang terletak di bagian barat Pulau Jawa untuk dijadikan tempat bermukim.
Syekh Abdul Muhyi pun pulang menuju kampung halamannya. Beliau memberitahukan kepda orangtuanya perihal apa yang sudah dialami dan diamanahkan oleh gurunya.
Singkat kisah, Syekh Abdul Muhyi pun berangkat mencari gua sesuai petunjuk dari Syekh Abdurrauf saat di Mekkah.
Dan adapun gua yang dimaksud tersbut adalah Gua Safarwadi Pamijahan
Menyusuri Gua Safarwadi
Setelah selesai berziarah ke makam Syekh Abdul Muhyi, kami melanjutkan perjalanan ziarah ke Gua Safarwadi. Boleh dibilang gua ini adalah tempat yang paling dinantikan untuk dikunjungi jika berkungjung ke Pamijahan.
Letak Gua Safarwadi tidak terlalu jauh dari Makam Syekh Abdul Muhyi. Untuk mencapai ke sana, kita cukup berjalan kaki. Mulai turun dari tangga makam, kemudian menyeberang jembatan kecil masjid. Dan setelah sampai di pertigaan, tinggal belok kanan dan jalan terus, maka jalur menuju gua sudah dekat
Rombongan kamipun berjalan menuju lokasi pintu masuk menuju gua. Tibalah kami secara bergiliran satu persatu masuk ke dalam gua.
Bagi saya pribadi, ini adalah pengalaman kedua. Sebelumnya saya pernah saya masuk ke dalam gua semacam itu di daerah pangandaran bersama suami, dalam rangka honeymoon ke 2 sekitar tahun 2005-2006.
Kesan pertama yang saya rasakan adalah dingin .. Lembab. Saya pikir mungkin karena kami masuk ke gua terlalu pagi. Apalagi sepanjang gua yang kami susuri bukan tanah kering, melainkan berjalan di dalam air. Dangkal sih, paling tinggi sebatas betis kaki saya. Lucunya beberapa teman rombongan merasa kegerahan. Suhu tubuh terasa begitu panas dan keringetan. Padahal saat itu saya menggunakan baju muslim syar'i bahan katun, tapi sedikitpun saya tidak merasa kepanasan
Lanjut menyusuri gua, jalur yang harus dilalui ternyata cukup terjal. Dalam berjalan harus sangat hati-hati, karena tidak jarang batu-batu tempat berpijak juga sangat licin permukaannya.
Sama seperti gua pada umumnya, Gua Safarwadi ini juga dipenuhi stalaktit dan stalakmit di seluruh permukaannya. Yang menjadikannya istimewa adalah karena diyakini bahwa gua ini merupakan tempat semedinya para Syekh.
Di dalamnya juga terdapat semacam sekat-sekat yang seperti memisahkan ruangan satu dan ruangan lainnya. Beberapa ruangan di gua tersebut diyakini sebagai tempat semedinya para waliyullah zaman dulu, salah satunya Syekh Abdul Muhyi.
Di salah satu sudut gua juga terdapat mata air yang jernih dan bisa langsung diminum.
Tak ketinggalan, kami juga memasuki sebuah ruangan di mana terdapat sebuah lubang di dinding gua. Lubang tersebut diyakini oleh sebagian orang sebagai jalur para wali yang bisa tembus hingga ke Mekkah.
Kemudian kami lanjut berjalan menyusuri gua yang memiliki panjang sekitar 400 meter ini. Hingga akhirnya terlihatlah pintu keluar tanda ujung gua.
Itulah perjalanan saya di akhir tahun 2017. Gk ada harapan lain di tahun 2018 selain berharap semoga Allah menjadikan saya manusia yang beriman. Bisa menjaga shalat. Dan bisa menjadi orang yang bermanfaat. Semoga Allah juga memberikan saya kebaikan yang kebaikan itu terus menurun ke anak cucu saya. Aaamiin ...
